Bukan bermaksud menjelek-jelekkan orangtua
tetapi sebagian orang tua ketika kesal dengan anaknya cenderung suka curhat
sama oranglain dengan menceritakan segala kekurangan anaknya secara berlebihan,
bahkan lebih dari kesalahan yang dibuatnya. Ya, padahal kekurangan anak tidak
lain merupakan kekurangan kita sebagai orangtuanya. Saya katakan, tidak baik
seperti itu. Kenapa ? anakmu adalah keluargamu, implementasi dari dirimu
sendiri, mendidiknya adalah kewajiban, mengasihinya adalah kebutuhan.
Beberapa kasus yang saya temui, menurut
pengalaman pribadi saya dalam melihat
apa yang terjadi di masyarakat, orangtua merasa keberatan ketika anaknya
direndahkan orang lain, diragukan kemampuannya. Selaku orangtua merasa terhina
berhadapan dengan keadaan demikian, menghina anaknya artinya menghina harga
dirinya dan juga keluarganya. Disisi lain, dia lupa bahwa sebelumnya dialah
yang menjadi penyebab oranglain meremehkan anaknya, dia yang mencitrakan kepada
orang lain bahwa anaknya adalah manusia yang tidak pantas dihargai, tidak
beradab, tidak memiliki nilai apa-apa. Untuk itu saya mengajak kepada orang tua
agar banyak-banyak mengintroveksi sikapnya sendiri dan belajarlah menghargai
anaknya sendiri. Orang lain akan menghargai keluargamu, dari sikapmu sendiri.
Buruknya anakmu adalah kekurangamu, unggulnya anakmu adalah keberkahan dari
Allah untukmu yang telah menjaga amanahNya dengan membesarkan anak (titipanNya)
dengan baik.
Ingat! Anakmu adalah kualitasmu. Kualitasmu, dapat dilihat dari
anakmu.
Hal itu cukup mengusik pikiran saya, kenapa? Orang
tua yang bersikap kekanak-kanakan begitu, sepertinya hanya kebetulan saja
menjadi orangtua akibat konsekuensinya menikah dan dihamili suaminya, pun suami
karena kebetulan istrinya hamil dan melahirkan anak. Sebenarnya, tidak niat
menjadi orangtua. Menjadi orangtua, anda harus banyak bersabar dengan kekurangan
anakmu, ridho dengan pemberian Allah dan melaksanakan tanggungjawab semampumu.
Saya berpikir, apakah fenomena seperti ini
akibat karena pasangan-pasangan yang menikah tanpa membekali diri sama sekali
dengan ilmu parenting? Apakah memang bawaan tabiat dari orangtuanya juga? Dan orangtua
menikahkan anaknya tanpa membekali anak dengan didikan yang sudah bebar-benar
matang? Apakah pernikahan itu adalah uji coba saja? Ataukah terpaksa menikah
karena MBA (Married by Accident) alias kecelakaan karena hamil diluar nikah? Sepertinya
ini mata rantai masalah yang turun-temurun.
Jangan
mudah lisanmu merendahkan harga diri anakmu, karena oranglain akan berpikir ada
masalah pada pernikahanmu.
Anak akan sulit terbentuk karakter yang baik
jika orang-orang di sekitarnya bermental illness. Kadang ada orangtua yang
menyuruh anaknya agar berlaku sopan, tapi orangtua kerap berkata kasar,
mendidik dengan memukul/ melukai fisik, tanpa adanya teladan baik sama sekali
dari orangtuanya sendiri. Menuntut anak berprilaku sempurna tanpa mentolerir
kekurangan anak tapi anak harus memaklumi kekurangan dan tidak boleh sama
sekali menuntut orangtua berlaku baik padanya. Ya! Aturan tidak berlaku
sebaliknya, itulah yang terjadi. Anak harus berbuat tanpa menuntut contoh. Jika
di antara pembaca ada yang mengalami hal yang sama, sama-sama memiliki orangtua
bermental illness, maka saya sarankan mau tidak mau kalian dituntut harus
banyak-banyak bersabar. Jika pembaca ada yang sudah menjadi orangtua,
banyak-banyaklah introveksi diri. Jadilah orangtua yang layak untuk anakmu. Jangan
merasa membesarkan anak cukup hanya sekedar memberinya makan, membelikan materi,
membekalinya dengan uang jajan, dan membayar uang sekolah dengan menyerahkan
urusan mendidiknya hanya menjadi urusan sekolah saja.
Oia, tidak sedikit juga orangtua mengatai
anaknya secara langsung dan tanpa pikir panjang, bahwa kehadiran anaknya hanya
menjadi beban hidupnya, membuat hidupnya menjadi tidak bahagia, hanya menyusahkan
saja. Wahai orangtua, patut diketahui dia lahir tanpa tau dia akan dilahirkan
oleh Ibu dan Ayah yang bagaimana. Seandainya bisa memilih, dia tidak akan
memilihmu menjadi orangtuanya. Menjadi orangtua memang harus menanggung sakit
dan tidak ada yang memintamu untuk hamil dan mempunyai anak. Mengapa kalau
demikian, kau tidak menikah saja sekalian? Orangtua yang harusnya menjadi pelindung,
malah menjadi musuh untuk anaknya. Kau telah menuntut anakmu atas hal yang
tidak mampu anakmu berkuasa untuk itu. Kau sama dengan menuntut Tuhan atas
ketentuannya.
Sebaiknya dari awal anda katakan, tidak siap
menjadi orangtua. Karena seorang anak jika berada ditangan anda hanya akan menjadi
rusak mentalnya, dan anda bunuh karakternya. Dari awal harusnya anda sadar,
anda tidak cocok mengasuh anak-anak. Sekolah menjadi “orangtua” memang tidak ada, tapi belajar menjadi orangtua yang baik
itu bisa. Jika anda mau berusaha
menjadi orangtua yang baik.
Banyak pasangan suami istri yang belum
dikaruniai anak, mereka sangat mengharapkannya. Tetapi ada pasangan suami istri
yang sudah dikaruniai anak tapi tidak bersyukur dan tidak mau belajar memenuhi
tanggungjawabnya sebagai orangtua.
Bersyukurlah kalian yang dianugrahi anak,
ketika kalian meninggal dunia, maka dialah orang yang diberi kelebihan oleh Allah untuk
bisa meringankan siksa kuburmu jika kau bisa mendidiknya menjadi anak yang
sholeh. Anak yang sholeh tidak didapatkan dengan hanya menuntut anak menjadi
orang yang baik. Tetapi anak yang sholeh itu ada karena ada orang tua yang mau
menjadi teladan dan berusaha paling depan dalam berbuat amalan-amalan yang
sholeh.
Sayangilah anakmu. Jangan cepat murka terhadap
anak kemudian menghinanya di depan oranglain jika tidak ingin anakmu dikemudian
hari dihina orang. Sekali lagi saya katakan, Ingat! Anakmu adalah kualitasmu.
Kualitasmu, dapat dilihat dari anakmu.
Written by Ummu Luqman (pendidik dan pemerhati parenting)
