Sabtu, 16 Maret 2019

“Jangan Ajari Orang Lain Menghina Anakmu”



Bukan bermaksud menjelek-jelekkan orangtua tetapi sebagian orang tua ketika kesal dengan anaknya cenderung suka curhat sama oranglain dengan menceritakan segala kekurangan anaknya secara berlebihan, bahkan lebih dari kesalahan yang dibuatnya. Ya, padahal kekurangan anak tidak lain merupakan kekurangan kita sebagai orangtuanya. Saya katakan, tidak baik seperti itu. Kenapa ? anakmu adalah keluargamu, implementasi dari dirimu sendiri, mendidiknya adalah kewajiban, mengasihinya adalah kebutuhan.

Beberapa kasus yang saya temui, menurut pengalaman pribadi saya dalam melihat  apa yang terjadi di masyarakat, orangtua merasa keberatan ketika anaknya direndahkan orang lain, diragukan kemampuannya. Selaku orangtua merasa terhina berhadapan dengan keadaan demikian, menghina anaknya artinya menghina harga dirinya dan juga keluarganya. Disisi lain, dia lupa bahwa sebelumnya dialah yang menjadi penyebab oranglain meremehkan anaknya, dia yang mencitrakan kepada orang lain bahwa anaknya adalah manusia yang tidak pantas dihargai, tidak beradab, tidak memiliki nilai apa-apa. Untuk itu saya mengajak kepada orang tua agar banyak-banyak mengintroveksi sikapnya sendiri dan belajarlah menghargai anaknya sendiri. Orang lain akan menghargai keluargamu, dari sikapmu sendiri. Buruknya anakmu adalah kekurangamu, unggulnya anakmu adalah keberkahan dari Allah untukmu yang telah menjaga amanahNya dengan membesarkan anak (titipanNya) dengan baik. 

Ingat! Anakmu adalah kualitasmu. Kualitasmu, dapat dilihat dari anakmu.




Hal itu cukup mengusik pikiran saya, kenapa? Orang tua yang bersikap kekanak-kanakan begitu, sepertinya hanya kebetulan saja menjadi orangtua akibat konsekuensinya menikah dan dihamili suaminya, pun suami karena kebetulan istrinya hamil dan melahirkan anak. Sebenarnya, tidak niat menjadi orangtua. Menjadi orangtua, anda harus banyak bersabar dengan kekurangan anakmu, ridho dengan pemberian Allah dan melaksanakan tanggungjawab semampumu.

Saya berpikir, apakah fenomena seperti ini akibat karena pasangan-pasangan yang menikah tanpa membekali diri sama sekali dengan ilmu parenting? Apakah memang bawaan tabiat dari orangtuanya juga? Dan orangtua menikahkan anaknya tanpa membekali anak dengan didikan yang sudah bebar-benar matang? Apakah pernikahan itu adalah uji coba saja? Ataukah terpaksa menikah karena MBA (Married by Accident) alias kecelakaan karena hamil diluar nikah? Sepertinya ini mata rantai masalah yang turun-temurun.

Jangan mudah lisanmu merendahkan harga diri anakmu, karena oranglain akan berpikir ada masalah pada pernikahanmu.

Anak akan sulit terbentuk karakter yang baik jika orang-orang di sekitarnya bermental illness. Kadang ada orangtua yang menyuruh anaknya agar berlaku sopan, tapi orangtua kerap berkata kasar, mendidik dengan memukul/ melukai fisik, tanpa adanya teladan baik sama sekali dari orangtuanya sendiri. Menuntut anak berprilaku sempurna tanpa mentolerir kekurangan anak tapi anak harus memaklumi kekurangan dan tidak boleh sama sekali menuntut orangtua berlaku baik padanya. Ya! Aturan tidak berlaku sebaliknya, itulah yang terjadi. Anak harus berbuat tanpa menuntut contoh. Jika di antara pembaca ada yang mengalami hal yang sama, sama-sama memiliki orangtua bermental illness, maka saya sarankan mau tidak mau kalian dituntut harus banyak-banyak bersabar. Jika pembaca ada yang sudah menjadi orangtua, banyak-banyaklah introveksi diri. Jadilah orangtua yang layak untuk anakmu. Jangan merasa membesarkan anak cukup hanya sekedar memberinya makan, membelikan materi, membekalinya dengan uang jajan, dan membayar uang sekolah dengan menyerahkan urusan mendidiknya hanya menjadi urusan sekolah saja.

Oia, tidak sedikit juga orangtua mengatai anaknya secara langsung dan tanpa pikir panjang, bahwa kehadiran anaknya hanya menjadi beban hidupnya, membuat hidupnya menjadi tidak bahagia, hanya menyusahkan saja. Wahai orangtua, patut diketahui dia lahir tanpa tau dia akan dilahirkan oleh Ibu dan Ayah yang bagaimana. Seandainya bisa memilih, dia tidak akan memilihmu menjadi orangtuanya. Menjadi orangtua memang harus menanggung sakit dan tidak ada yang memintamu untuk hamil dan mempunyai anak. Mengapa kalau demikian, kau tidak menikah saja sekalian? Orangtua yang harusnya menjadi pelindung, malah menjadi musuh untuk anaknya. Kau telah menuntut anakmu atas hal yang tidak mampu anakmu berkuasa untuk itu. Kau sama dengan menuntut Tuhan atas ketentuannya.

Sebaiknya dari awal anda katakan, tidak siap menjadi orangtua. Karena seorang anak jika berada ditangan anda hanya akan menjadi rusak mentalnya, dan anda bunuh karakternya. Dari awal harusnya anda sadar, anda tidak cocok mengasuh anak-anak. Sekolah menjadi “orangtua” memang tidak ada, tapi belajar menjadi orangtua yang baik itu bisa. Jika anda mau berusaha menjadi orangtua yang baik.

Banyak pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak, mereka sangat mengharapkannya. Tetapi ada pasangan suami istri yang sudah dikaruniai anak tapi tidak bersyukur dan tidak mau belajar memenuhi tanggungjawabnya sebagai orangtua.

Bersyukurlah kalian yang dianugrahi anak, ketika kalian meninggal dunia, maka dialah  orang yang diberi kelebihan oleh Allah untuk bisa meringankan siksa kuburmu jika kau bisa mendidiknya menjadi anak yang sholeh. Anak yang sholeh tidak didapatkan dengan hanya menuntut anak menjadi orang yang baik. Tetapi anak yang sholeh itu ada karena ada orang tua yang mau menjadi teladan dan berusaha paling depan dalam berbuat amalan-amalan yang sholeh.

Sayangilah anakmu. Jangan cepat murka terhadap anak kemudian menghinanya di depan oranglain jika tidak ingin anakmu dikemudian hari dihina orang. Sekali lagi saya katakan, Ingat! Anakmu adalah kualitasmu. Kualitasmu, dapat dilihat dari anakmu.

Written by Ummu Luqman (pendidik dan pemerhati parenting)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengalaman Lulus UTN

Serba-Serbi UTN  Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya lulus UTN. UTN ini sering menjadi polemik para guru yang sudah melewati PL...