Serba-Serbi UTN
Kali ini saya
akan berbagi pengalaman saya lulus UTN. UTN ini sering menjadi polemik para
guru yang sudah melewati PLPG dan telah dinyatakan lulus ujian lokal. Nah,
dalam menentukan seseorang bisa dikatakan lulus jika sudah melaksanakan UTN dan
nilainya mencapai lebih dari 70. Untuk jumlah soal UTN pun bervariasi,
setiap guru bidang studi yang mengikuti
UTN mendapatkan jumlah soal yang berbeda dan untuk mata pelajaran
matematika seperti saya, jumlah soalnya adalah 100 nomor yang terdiri atas
materi pedagogik dan profesional. Soal-soal tersebut banyak yang menganggapnya
cukup sulit karena model soal yang disajikan bukan hanya materi saja tapi soal
yang dikembangkan lagi dan menguji nalar peserta ujian, yang belakangan dikenal
dengan sebutan soal-soal HOTS (High Order Thinking Skills). Sehingga ketika
ujian tidak sedikit peserta yang mengatakan bahwa soal-soal yang keluar agak
berbeda dengan soal-soal yang selama ini
mereka peroleh melalui buku dan tugas-tugas daring yang diberikan.
Saya akan
bercerita sedikit tentang masa-masa penugasan sebelum diklat PLPG. Nah, ketika
telah dinyatakan layak menjadi peserta PLPG dengan berdasar perolehan nilai UKG
2015 mulai dari 65. Nama-nama peserta akan diajukan oleh
kemenristek dan diinfokan ke dinas pendidikan masing-masing daerah dan
melengkapi pemberkasannya ke LPTK yang ditunjuk sebagai penyelenggara diklat
PLPG. Setelah itu penentuan dosen pembimbing, 1 orang dosen membimbing maksimal
10 orang guru sesuai bidang studi yang ditekuni. Diberikan link untuk
mengkonfirmasi kesediaan dan kami para peserta PLPG se-Provinsi berinisiatif
membuat grup WhatsApp khusus anggota PLPG se-angkatan kami maupun grup khusus kelompok
kami belajar kami bersama dosen pembimbing masing-masing. Demi berbagi
informasi kegiatan kami dan bertanya hal-hal seputar tugas laporan. Foto profil
dan informasi pribadi pun harus menggambarkan identitas diri, tak boleh gambar
lain selain foto wajah sendiri. Maka spontan teman-teman yang foto profilnya
berupa wajah anak, kucing ataupun animasi berubah segera menjadi foto close-up.
Dengan informasi pribadi berupa nama lengkap dan unit kerja. Ada yang menarik
saat itu, ada teman guru yang belum memiliki android, ada yang harus
manjat-manjat pohon mencari signal, ada yang harus menyemberang laut atau
sungai karena harus ke ibu kota kabupaten untuk bisa online, ya karena ada
beberapa daerah yang signal bisa ditangkap hanya jika berada di ibu kota
kabupatennya saja. Mungkin bagi guru-guru lain yang daerah pusat kota dan
terjangkau signal, mengirim tugas cukup dengan sentuhan-sentuhan pada android
dan laptop saja tanpa harus manjat-manjat pohon nangkap signal.
Selama 3
bulan kami harus melewati tahap Prakondisi dan menyelesaikan laporan daring,
berusaha semaksimal mungkin dengan rajin membaca modul, sharing di grup WA jika
ada tugas yang sulit untuk diselesaikan, dan konsultasi dengan dosen pembimbing
kami. Tidak terasa saya sudah menyelesaikan laporan ke-4 dalam waktu relatif
singkat. Saking senengnya terpilih untuk PLPG, ketika teman-teman baru sampai
pada laporan ke-2, saya sudah duluan menyelesaikannya sampai laporan ke-4.
Akhirnya 3 minggu saya sakit, drop, dan terlalu lelah. Dari diagnosa dokter
saya kena tipes dan radang tenggorokan. Mengerjakan laporan membuatku telat
makan, males minum, terlalu lelah dan seringnya begadang setiap malam, selalu
tidur 2-3 jam saja. Saya berburu tugas PLPG karena khawatir terbengkalai karena
di sekolah sebagai guru juga banyak kegiatan dan tugas-tugas lainnya. Saya
terlalu memforsir tenaga sampai lupa bahwa fisik juga butuh istirahat. Akhirnya
saya di rawat di rumah sakit setelah sakit 2 minggu tidak kunjung sembuh
padahal sudah berobat ke dokter praktek. Sayangnya, dokter senior itu
memberikan resep yang salah untuk sakit saya. Beliau buru-buru menstop
keluhan-keluhan saya ketika konsultasi dan mengaku sudah tau dan mengatakan itu
cuma demam krn flu. Kalau seminggu enggak sembuh juga diminta balik lagi, saya
tidak balik ketika seminggu kemudian tapi langsung masuk IGD rumah sakit.
Seminggu di rumah sakit. Saya masuk karantina di hotel Zamrud jln Munif Rahman untuk mengikuti
diklat PLPG.
Kegiatan
padat setiap hari dan berlangsung selama 2 minggu. Masuk hari pertama saja
sudah diminta presentasikan materi selama Prakondisi, kegiatan daring. Kemudian
masuk materi dari para dosen yang kompeten dan selalu diakhiri dengan tugas
yang harus segera dikumpulkan pada akhir kegiatan. Kami juga dibagi menjadi 3
kelompok dan harus ujian kinerja dengan Micro Teaching dihadapan teman-teman
guru dan 2 orang dosen. Malamnya kami harus Ujian Tulis Lokal, alhamdulillah
kami dibidang studi matematika semuanya lulus. Hari terakhir pun tiba kami pun
difasilitasi bus ke UNTAD dari LPTK untuk Ujian Tulis Nasional (UTN) utama. Dan
ketika ujian sudah mulai, JLEB. Ternyata gugupku menjadi-jadi ditambah soalnya
cukup sulit, ternyata model soal HOTS. Waduh, belum belajar banyak nich, belum
lagi kondisi tubuh yang belum 100% fit dan saya kehabisan waktu, 120 menit
waktu dengan soal 100 nomor yang cukup sulit terasa tidak cukup. Dan sebulan
kemudian, TARAAAAA. Saya pun belum lulus. Waktu itu Cuma kurang lebih 10-12
orang yang berhasil lulus. Belum lama berselang, ternyata 3 minggu kemudian UTN
ulang 1, masih ada 3 minggu belajar. Tapi, jauh dari harapan karena saya belum
bisa konsentrasi penuh karena anak saya yang sakit, demamnya naik turun.
Konsentrasi saya kacau, saya lebih fokus pada kesembuhan anak. Dan ketika hari
ujian pun, walau sudah berulang-ulang membaca soal ternyata masih mengalami
kesulitan dalam menyelesaikan soal. Karena soal yang saya pelajari kurang
bervariasi dan jawabannya juga bervariasi, itu karena soal-soal latihan yang
beredar hanya kami-kami saja yang jawab, nyaris tak ada pembanding dengan kunci
jawaban aslinya. Dan bulan April tibalah pengumuman, dan lagi-lagi dinyatakan
belum lulus. Dan kali ini banyak teman-teman saya yang lulus. Yang belum lulus
terhitung tinggal 5 orang, saya termasuk di dalamnya. Hal itu mengagetkan
teman-teman dan dosen pembimbing saya. Yah, tapi biarlah saya mengulang yang
ke-2 kalinya. Walau hati kecewa. Sempat putus asa. Sy sempat menelpon
teman-teman saya yang saya perkirakan bisa dimintai pendapatnya mengenai cara
mereka dalam mengerjakan soal 100 nomor dalam waktu 120 menit, sekaligus minta
motivasi serta doa dari mereka semoga UTN ulang 2 saya Lulus.
Maka setiap
sholat saya berdoa dan tekun belajar materi. Saya menyalin kembali soal-soal
latihan dan berusaha mengingat win-win solution dalam mengerjakan soal-soal
UTN. Kali ini saya tidak akan main-main. Bagi saya ini bagian dari harga diri
seorang guru. Karena selama 7 tahun mengajar, inilah saatnya saya menginginkan
sertifikat profesional untuk dimiliki dan ingin diakui dan menjadikan identitas
diri saya sebagai guru yang layak mengajar. Saya sudah cukup merasakan sakitnya
tidak lulus dan ditinggalkan teman-teman mayoritas yang satu grup saya harapkan
bisa banyak membantu saya belajar. Nyatanya tidak begitu mau empati dan
membantu. Dikala daftar pengumuman tertulis nama saya belum lulus dan
teman-teman yang sudah lulus diupload di facebook, maka seolah seluruh jagad
dunia maya Facebook tau saya gagal. Seandainya berani mengutarakan keberatan,
saya sebenarnya menginginkan daftar itu tidak diupload saya sekalian. Mereka
yang lulus seperti tidak paham perasaan saya dan teman-teman lain yang belum
beruntung seperti mereka.
Lagi-lagi
saya berucap syukur, saya masuk grup UTN 2 untuk para guru Indonesia. Tetapi
ada orang baik yang sudah lulus dengan senang hati masuk grup WA kami dan
membantu kami belajar, menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, dan membantu
membahas apapun di grup termasuk memberi motivasi saya untuk tekun belajar agar
lulus. Namanya ibu Elmar Sasmida, guru dari Padang Prov Sumatra Barat. Ada pula
bapak Wahyudi dari Meranti Prov Riau dan pak Amos dari Malinau Prov Kalimantan
Utara, kami sering berdebat dalam membahas soal. Anehnya mereka mereka berdua
itu adalah guru berprestasi di daerahnya, tapi belum lulus UTN ulang 1 seperti
saya. Ternyata dalam grup itu ada orang-orang hebat yang bisa membantu saya
belajar.
Tibalah waktu
UTN ulang 2, Seperti ada rasa gembira yang sangat sebelum ujian dimulai.
Kagetnya sebelum ujian pihak penyelenggara mengatakan KKMnya saat ini adalah 80
ke atas. Yah, tapi tak apalah . Dan ternyata ketika saya telah beradapan dengan
komputer dan memulai ujian dari awal sampai akhir soal itu bisa saya selesaikan
dengan sangat mudahnya. Dari 120 menit, saya hanya menggunakan waktu 29 menit
dalam menyelesaikan soalnya, sudah termasuk waktu 3 kali bolak-balik mengecek
soal dan jawaban. Dan kali ini saya yakin LULUS. Bahagia rasanya. Dan tiba
pengumuman bulan Desember, hasilnya saya LULUS UTN ulang-2. Tak sabar rasanya
mendapat sertifikat pendidik. Akhirnya saya diakui sebagai guru Profesional.
Alhamdulillah ya Allah, TERIMA KASIH.
Penulis : Dwi Wahyuni
(berdasarkan kisah nyata)

