Minggu, 19 Mei 2019

SIAPA BIANG KEDURHAKAAN ANAK?



Hal ini berangkat dari rasa keprihatinan saya tentang masalah orangtua dan remaja. Acap kali kita perhatikan bahwa masalah-masalah remaja yang terjadi ini berawal dari tumpukan kerusakan yang terjadi dari pola asuh orangtua yang salah,. Bukan bermaksud mengkambinghitamkan peran orangtua. Karena jika orangtualah yang memberi kontribusi terbanyak dalam awal pendidikan seseorang yang lahir di dunia ini, merekalah peletak batu utama keteladanan dan karakter seseorang. Hal ini tak bisa dipungkiri, anak membawa tabiat dasar menurun secara genetis dari orangtuanya masing-masing. Maka hal ini perlu menjadi perhatian utama orangtua, agar berhati-hati dalam bertindak tanduk dalam kesehariannya. Anak itu tidak lain dan tidak bukan merupakan manifestasi dari orangtuanya masing-masing.

Orangtua kadang tak memandang penting mengenai adab terhadap anak. Sebagian orangtua bertanya, “untuk apa beradab tertentu trhadap anak? “, jangan kita berpikir, kitalah orangtua yang justru anak yang harus memperhatikan adabnya terhadap orangtua, mungkin kita ada lagi yang berkata, “ dimana-mana itu, anak yang durhaka pada orangtua, tidak ada ceritanya orangtua yang durhaka terhadap anak. Ya, kata “DURHAKA” yang berkembang di masyarakat hanyalah identik dengan perbuatan seorang anak saja terhadap orangtuanya. Itu adalah pandangan yang salah sekali. 

Ada sebuah kisah, ada seorang laki-laki menemui Umar bin Khattab untuk mengadukan kedurhakaan anaknya.
Umar pun memanggil anak tersebut dan menegur perbuatannya itu.
Setelah itu anak tersebut bertanya, “wahai amirul mukminin, bukankah anak memiliki hak atas orangtuanya?” tegas sang anak

Umar menjawab, “ya, benar”

“Lantas apa itu kewajiban orangtua kepada anak?” si anak kembali bertanya kepada khalifah Umar
Atas pertanyaan perihal kewajiban orangtua kepada anaknya, umar mengatakan, “ memilih calon ibu yang baik untuknya, memberi nama yang bagus, dan mengajarkan Al-Quran”.

“ Wahai amirul mukminin bagaimana aku berbakti kepada , sungguh ayahku ini tidak melakukan tiga hal tersebut. Ibuku adalah seorang negro dari keturunan Majusi. Ayahku menawaiku “ Ju’al adalah sejenis kumbang yang hidupnya akrab dengan kotoran hewan. Dia juga tidak mengajari Al-Qur’an. Dia juga memilihkan ibu yang buruk akhlaknya kepadaku.  

Umar memandang orangtua tersebut kemudian berkata, “Engkau datang mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau yang telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk padanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu”.
Tujuan dalam pernikahan selain mendapatkan keturunan adalah membangun generasi yang berkualitas akhlaknya. Orangtua yang menyakiti hati anak ditambah menelantarkan anaknya tersebut jika orangtua baik ayah atau ibu telah berdosa  pada anak-anaknya. Rasulullah bersabda, “ seseorang dikatakan cukup berbuat dosa bilamana menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya.” Menelantarkan bukan hanya diartikan membuang anak begitu saja, tetapi mengabaikan pendidikannya berupa pendidikan moral, maupun pendidikan formalnya. Tidak mengajari etika, beragama, bertingkahlaku yang baik terhadap orangtua, saudara, dan sesamanya. Orangtua menjadi orang yang paling bertanggungjawab atas hal tersebut. Tanggungjawab tidak hanya sekedar berbicara tentang materi, bukan hanya kau telah memberinya makan, kendaraan, fasilitas, rumah, pakaian, kendaraan, ongkos sekolah dan uang jajan. Tapi yang paling utama yang menjadi tanggungjawabmu adalah agama, kasih sayang, perhatian, dan pembentukan akhlaknya.
Acap kali kita dapati orangtua yang perkataannya sering menyingung perasaan anaknya, hal itu seolah menjadi hal sepele bagi orangtua. Perkataan positif sebaiknya lebih diperbanyak agar membuat anak lebih percaya diri dan senang.  Kekerasan terhadap anak baik fisik dan psikis bukti jauhnya orang tua dari sikap tanggungjawab dan kasih sayang. Seorang ayah dan ibu yang mempunyai iman dan sadar bahwa anak amanah besar dari Allah, tidak akan tega untuk menyakiti hati anak dengan melampiaskan amarah dengan alasan karena sedang capek lelah atau ditimpa kemiskinan, menghancurkan anak dengan kata-kata negatif, membunuh karakter dan bahkan membunuh perasaan mereka terhadap orangtuanya.
Anak itu ibarat tanaman, kau cukupi dengan pupuk, air, dan kebaikan tanah tempatnya tumbuh berkembang, kau perhatikan setiap hari, kau rawat dengan baik. Maka tanaman itu akan tumbuh subur, hijau dan berbuah ranum serta bermanfaat untuk orang-orang di sekitarnya. Namun sebaliknya, tanaman jika kau hanya asal menyiram, tak diperhatikan kebutuhan airnya, tidak dipupuk, ditanam pada tanah yang kurang baik, tidak pula kau rawat dan kau perhatikan lalu kau berharap tanamanmu sama dengan tetangga di sebelahmu yang subur dan terawat lalu kau kesal sendiri dengan tanamanmu yang tak baik bertumbuhnya, kau salahkan tanamannya yang tidak bagus, bahkan setiap hari kau kata-katai sebagai tanaman jelek dan sama sekali kau tidak memperbaiki caramu memeliharanya. Kau banding-bandingkan dengan punya tetanggamu. Karena kau kesal, kau cabut tanamanmu, lalu kau buang begitu saja karena kau anggap sebagai produk gagal. Sungguh caramu yang salah.
Sebagai orangtua haruslah bercermin, anak juga manusia seperti halnya kita. Janganlah kita hanya sibuk mengkritisi kekurangan anak kita tanpa memperhatikan sikap kita yang baik atau tidak padanya. Anak memang harus berbakti pada orangtuanya, itu bukan mengartikan kita sebagai orangtua bebas saja menyakiti perasaannya, tanpa perlu memperhatikan adab kepada anak. Dengan hanya banyak menuntut anak berbuat maksimal untuk kita, menuntut anak berbuat terbaik untuk orangtua, tidak membantah sedikitpun, sedangkan sikap orangtua pribadi terhadapnya kasar, tidak menghargai pendapatnya, mengganggapnya dungu, menghinakan harga dirinya dihadapan orang banyak, keberadaannya tidak dihargai, dianggap pembawa sial, dianggap sumber kesusahan hidup karena susah payah menghidupinya, dipukuli fisiknya terlebih lagi ada yang berpikir halal dan tidak berdosa untuk dibunuh karena merasa sebagai pemilik dari nyawa anak tersebut. Itu hanya akan membuat anak mengalami kesulitan untuk berbakti dan berbuat baik untuk orangtuanya sendiri. Janganlah mempersulit anak berbakti pada kita. Ajari dia bagaimana berkasih sayang yang baik dengan orangtua, saudaranya dan sesamanya. Ajari dia bagaimana menghormatimu, ajari dia beribadah kepada Penciptanya, ajari dia pandangan dan orientasi hidup yang baik, ajari dia sikap-sikap yang mulia, ajari dia cara bertutur kata yang sopan kepadamu, ajari dia cara bersabar terhadap kekuranganmu, ajari dia untuk menjaga harga dirinya, agama dan keluarga, karena kelak di akhirat kau akan mempertanggungjawabkannya kepada Allah Pemilik anak-anakmu.
Penulis : Ummu Luqman (Pemerhati Parenting)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengalaman Lulus UTN

Serba-Serbi UTN  Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya lulus UTN. UTN ini sering menjadi polemik para guru yang sudah melewati PL...