Hal ini
berangkat dari rasa keprihatinan saya tentang masalah orangtua dan remaja. Acap
kali kita perhatikan bahwa masalah-masalah remaja yang terjadi ini berawal dari
tumpukan kerusakan yang terjadi dari pola asuh orangtua yang salah,. Bukan
bermaksud mengkambinghitamkan peran orangtua. Karena jika orangtualah yang
memberi kontribusi terbanyak dalam awal pendidikan seseorang yang lahir di
dunia ini, merekalah peletak batu utama keteladanan dan karakter seseorang. Hal
ini tak bisa dipungkiri, anak membawa tabiat dasar menurun secara genetis dari
orangtuanya masing-masing. Maka hal ini perlu menjadi perhatian utama orangtua,
agar berhati-hati dalam bertindak tanduk dalam kesehariannya. Anak itu tidak
lain dan tidak bukan merupakan manifestasi dari orangtuanya masing-masing.
Orangtua kadang tak memandang penting mengenai adab
terhadap anak. Sebagian orangtua bertanya, “untuk apa beradab tertentu trhadap
anak? “, jangan kita berpikir, kitalah orangtua yang justru anak yang harus
memperhatikan adabnya terhadap orangtua, mungkin kita ada lagi yang berkata, “
dimana-mana itu, anak yang durhaka pada orangtua, tidak ada ceritanya orangtua
yang durhaka terhadap anak. Ya, kata “DURHAKA” yang berkembang di masyarakat
hanyalah identik dengan perbuatan seorang anak saja terhadap orangtuanya. Itu
adalah pandangan yang salah sekali.
Ada sebuah kisah, ada seorang laki-laki
menemui Umar bin Khattab untuk mengadukan kedurhakaan anaknya.
Umar
pun memanggil anak tersebut dan menegur perbuatannya itu.
Setelah
itu anak tersebut bertanya, “wahai amirul mukminin, bukankah anak memiliki hak
atas orangtuanya?” tegas sang anak
Umar
menjawab, “ya, benar”
“Lantas
apa itu kewajiban orangtua kepada anak?” si anak kembali bertanya kepada
khalifah Umar
Atas
pertanyaan perihal kewajiban orangtua kepada anaknya, umar mengatakan, “
memilih calon ibu yang baik untuknya, memberi nama yang bagus, dan mengajarkan
Al-Quran”.
“
Wahai amirul mukminin bagaimana aku berbakti kepada , sungguh ayahku ini tidak
melakukan tiga hal tersebut. Ibuku adalah seorang negro dari keturunan Majusi.
Ayahku menawaiku “ Ju’al adalah sejenis kumbang yang hidupnya akrab dengan
kotoran hewan. Dia juga tidak mengajari Al-Qur’an. Dia juga memilihkan ibu yang
buruk akhlaknya kepadaku.
Umar
memandang orangtua tersebut kemudian berkata, “Engkau datang mengadukan
kedurhakaan anakmu, padahal engkau yang telah durhaka kepadanya sebelum ia
mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk padanya sebelum ia berbuat buruk
kepadamu”.
Tujuan
dalam pernikahan selain mendapatkan keturunan adalah membangun generasi yang
berkualitas akhlaknya. Orangtua yang menyakiti hati anak ditambah menelantarkan
anaknya tersebut jika orangtua baik ayah atau ibu telah berdosa pada anak-anaknya. Rasulullah bersabda, “ seseorang
dikatakan cukup berbuat dosa bilamana menelantarkan orang-orang yang menjadi
tanggungannya.” Menelantarkan bukan hanya diartikan membuang anak begitu saja,
tetapi mengabaikan pendidikannya berupa pendidikan moral, maupun pendidikan
formalnya. Tidak mengajari etika, beragama, bertingkahlaku yang baik terhadap
orangtua, saudara, dan sesamanya. Orangtua menjadi orang yang paling
bertanggungjawab atas hal tersebut. Tanggungjawab tidak hanya sekedar berbicara
tentang materi, bukan hanya kau telah memberinya makan, kendaraan, fasilitas,
rumah, pakaian, kendaraan, ongkos sekolah dan uang jajan. Tapi yang paling
utama yang menjadi tanggungjawabmu adalah agama, kasih sayang, perhatian, dan
pembentukan akhlaknya.
Acap
kali kita dapati orangtua yang perkataannya sering menyingung perasaan anaknya,
hal itu seolah menjadi hal sepele bagi orangtua. Perkataan positif sebaiknya
lebih diperbanyak agar membuat anak lebih percaya diri dan senang. Kekerasan terhadap anak baik fisik dan psikis
bukti jauhnya orang tua dari sikap tanggungjawab dan kasih sayang. Seorang ayah
dan ibu yang mempunyai iman dan sadar bahwa anak amanah besar dari Allah, tidak
akan tega untuk menyakiti hati anak dengan melampiaskan amarah dengan alasan
karena sedang capek lelah atau ditimpa kemiskinan, menghancurkan anak dengan
kata-kata negatif, membunuh karakter dan bahkan membunuh perasaan mereka
terhadap orangtuanya.
Anak
itu ibarat tanaman, kau cukupi dengan pupuk, air, dan kebaikan tanah tempatnya
tumbuh berkembang, kau perhatikan setiap hari, kau rawat dengan baik. Maka
tanaman itu akan tumbuh subur, hijau dan berbuah ranum serta bermanfaat untuk
orang-orang di sekitarnya. Namun sebaliknya, tanaman jika kau hanya asal
menyiram, tak diperhatikan kebutuhan airnya, tidak dipupuk, ditanam pada tanah
yang kurang baik, tidak pula kau rawat dan kau perhatikan lalu kau berharap
tanamanmu sama dengan tetangga di sebelahmu yang subur dan terawat lalu kau
kesal sendiri dengan tanamanmu yang tak baik bertumbuhnya, kau salahkan
tanamannya yang tidak bagus, bahkan setiap hari kau kata-katai sebagai tanaman
jelek dan sama sekali kau tidak memperbaiki caramu memeliharanya. Kau
banding-bandingkan dengan punya tetanggamu. Karena kau kesal, kau cabut
tanamanmu, lalu kau buang begitu saja karena kau anggap sebagai produk gagal.
Sungguh caramu yang salah.
Sebagai
orangtua haruslah bercermin, anak juga manusia seperti halnya kita. Janganlah
kita hanya sibuk mengkritisi kekurangan anak kita tanpa memperhatikan sikap
kita yang baik atau tidak padanya. Anak memang harus berbakti pada orangtuanya,
itu bukan mengartikan kita sebagai orangtua bebas saja menyakiti perasaannya,
tanpa perlu memperhatikan adab kepada anak. Dengan hanya banyak menuntut anak
berbuat maksimal untuk kita, menuntut anak berbuat terbaik untuk orangtua,
tidak membantah sedikitpun, sedangkan sikap orangtua pribadi terhadapnya kasar,
tidak menghargai pendapatnya, mengganggapnya dungu, menghinakan harga dirinya
dihadapan orang banyak, keberadaannya tidak dihargai, dianggap pembawa sial,
dianggap sumber kesusahan hidup karena susah payah menghidupinya, dipukuli
fisiknya terlebih lagi ada yang berpikir halal dan tidak berdosa untuk dibunuh
karena merasa sebagai pemilik dari nyawa anak tersebut. Itu hanya akan membuat
anak mengalami kesulitan untuk berbakti dan berbuat baik untuk orangtuanya
sendiri. Janganlah mempersulit anak berbakti pada kita. Ajari dia bagaimana
berkasih sayang yang baik dengan orangtua, saudaranya dan sesamanya. Ajari dia
bagaimana menghormatimu, ajari dia beribadah kepada Penciptanya, ajari dia
pandangan dan orientasi hidup yang baik, ajari dia sikap-sikap yang mulia,
ajari dia cara bertutur kata yang sopan kepadamu, ajari dia cara bersabar
terhadap kekuranganmu, ajari dia untuk menjaga harga dirinya, agama dan
keluarga, karena kelak di akhirat kau akan mempertanggungjawabkannya kepada
Allah Pemilik anak-anakmu.
Penulis : Ummu
Luqman (Pemerhati Parenting)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar