Minggu, 19 Mei 2019

Pengalaman Lulus UTN


Serba-Serbi UTN 

Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya lulus UTN. UTN ini sering menjadi polemik para guru yang sudah melewati PLPG dan telah dinyatakan lulus ujian lokal. Nah, dalam menentukan seseorang bisa dikatakan lulus jika sudah melaksanakan UTN dan nilainya mencapai  lebih dari  70. Untuk jumlah soal UTN pun bervariasi, setiap guru bidang studi yang mengikuti  UTN mendapatkan jumlah soal yang berbeda dan untuk mata pelajaran matematika seperti saya, jumlah soalnya adalah 100 nomor yang terdiri atas materi pedagogik dan profesional. Soal-soal tersebut banyak yang menganggapnya cukup sulit karena model soal yang disajikan bukan hanya materi saja tapi soal yang dikembangkan lagi dan menguji nalar peserta ujian, yang belakangan dikenal dengan sebutan soal-soal HOTS (High Order Thinking Skills). Sehingga ketika ujian tidak sedikit peserta yang mengatakan bahwa soal-soal yang keluar agak berbeda dengan soal-soal  yang selama ini mereka peroleh melalui buku dan tugas-tugas daring yang diberikan.

Saya akan bercerita sedikit tentang masa-masa penugasan sebelum diklat PLPG. Nah, ketika telah dinyatakan layak menjadi peserta PLPG dengan berdasar perolehan nilai UKG 2015  mulai dari 65. Nama-nama peserta akan diajukan oleh kemenristek dan diinfokan ke dinas pendidikan masing-masing daerah dan melengkapi pemberkasannya ke LPTK yang ditunjuk sebagai penyelenggara diklat PLPG. Setelah itu penentuan dosen pembimbing, 1 orang dosen membimbing maksimal 10 orang guru sesuai bidang studi yang ditekuni. Diberikan link untuk mengkonfirmasi kesediaan dan kami para peserta PLPG se-Provinsi berinisiatif membuat grup WhatsApp khusus anggota PLPG se-angkatan kami maupun grup khusus kelompok kami belajar kami bersama dosen pembimbing masing-masing. Demi berbagi informasi kegiatan kami dan bertanya hal-hal seputar tugas laporan. Foto profil dan informasi pribadi pun harus menggambarkan identitas diri, tak boleh gambar lain selain foto wajah sendiri. Maka spontan teman-teman yang foto profilnya berupa wajah anak, kucing ataupun animasi berubah segera menjadi foto close-up. Dengan informasi pribadi berupa nama lengkap dan unit kerja. Ada yang menarik saat itu, ada teman guru yang belum memiliki android, ada yang harus manjat-manjat pohon mencari signal, ada yang harus menyemberang laut atau sungai karena harus ke ibu kota kabupaten untuk bisa online, ya karena ada beberapa daerah yang signal bisa ditangkap hanya jika berada di ibu kota kabupatennya saja. Mungkin bagi guru-guru lain yang daerah pusat kota dan terjangkau signal, mengirim tugas cukup dengan sentuhan-sentuhan pada android dan laptop saja tanpa harus manjat-manjat pohon nangkap signal.  

Selama 3 bulan kami harus melewati tahap Prakondisi dan menyelesaikan laporan daring, berusaha semaksimal mungkin dengan rajin membaca modul, sharing di grup WA jika ada tugas yang sulit untuk diselesaikan, dan konsultasi dengan dosen pembimbing kami. Tidak terasa saya sudah menyelesaikan laporan ke-4 dalam waktu relatif singkat. Saking senengnya terpilih untuk PLPG, ketika teman-teman baru sampai pada laporan ke-2, saya sudah duluan menyelesaikannya sampai laporan ke-4. Akhirnya 3 minggu saya sakit, drop, dan terlalu lelah. Dari diagnosa dokter saya kena tipes dan radang tenggorokan. Mengerjakan laporan membuatku telat makan, males minum, terlalu lelah dan seringnya begadang setiap malam, selalu tidur 2-3 jam saja. Saya berburu tugas PLPG karena khawatir terbengkalai karena di sekolah sebagai guru juga banyak kegiatan dan tugas-tugas lainnya. Saya terlalu memforsir tenaga sampai lupa bahwa fisik juga butuh istirahat. Akhirnya saya di rawat di rumah sakit setelah sakit 2 minggu tidak kunjung sembuh padahal sudah berobat ke dokter praktek. Sayangnya, dokter senior itu memberikan resep yang salah untuk sakit saya. Beliau buru-buru menstop keluhan-keluhan saya ketika konsultasi dan mengaku sudah tau dan mengatakan itu cuma demam krn flu. Kalau seminggu enggak sembuh juga diminta balik lagi, saya tidak balik ketika seminggu kemudian tapi langsung masuk IGD rumah sakit. Seminggu di rumah sakit. Saya masuk karantina di hotel Zamrud jln Munif Rahman untuk mengikuti diklat PLPG.


Kegiatan padat setiap hari dan berlangsung selama 2 minggu. Masuk hari pertama saja sudah diminta presentasikan materi selama Prakondisi, kegiatan daring. Kemudian masuk materi dari para dosen yang kompeten dan selalu diakhiri dengan tugas yang harus segera dikumpulkan pada akhir kegiatan. Kami juga dibagi menjadi 3 kelompok dan harus ujian kinerja dengan Micro Teaching dihadapan teman-teman guru dan 2 orang dosen. Malamnya kami harus Ujian Tulis Lokal, alhamdulillah kami dibidang studi matematika semuanya lulus. Hari terakhir pun tiba kami pun difasilitasi bus ke UNTAD dari LPTK untuk Ujian Tulis Nasional (UTN) utama. Dan ketika ujian sudah mulai, JLEB. Ternyata gugupku menjadi-jadi ditambah soalnya cukup sulit, ternyata model soal HOTS. Waduh, belum belajar banyak nich, belum lagi kondisi tubuh yang belum 100% fit dan saya kehabisan waktu, 120 menit waktu dengan soal 100 nomor yang cukup sulit terasa tidak cukup. Dan sebulan kemudian, TARAAAAA. Saya pun belum lulus. Waktu itu Cuma kurang lebih 10-12 orang yang berhasil lulus. Belum lama berselang, ternyata 3 minggu kemudian UTN ulang 1, masih ada 3 minggu belajar. Tapi, jauh dari harapan karena saya belum bisa konsentrasi penuh karena anak saya yang sakit, demamnya naik turun. Konsentrasi saya kacau, saya lebih fokus pada kesembuhan anak. Dan ketika hari ujian pun, walau sudah berulang-ulang membaca soal ternyata masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal. Karena soal yang saya pelajari kurang bervariasi dan jawabannya juga bervariasi, itu karena soal-soal latihan yang beredar hanya kami-kami saja yang jawab, nyaris tak ada pembanding dengan kunci jawaban aslinya. Dan bulan April tibalah pengumuman, dan lagi-lagi dinyatakan belum lulus. Dan kali ini banyak teman-teman saya yang lulus. Yang belum lulus terhitung tinggal 5 orang, saya termasuk di dalamnya. Hal itu mengagetkan teman-teman dan dosen pembimbing saya. Yah, tapi biarlah saya mengulang yang ke-2 kalinya. Walau hati kecewa. Sempat putus asa. Sy sempat menelpon teman-teman saya yang saya perkirakan bisa dimintai pendapatnya mengenai cara mereka dalam mengerjakan soal 100 nomor dalam waktu 120 menit, sekaligus minta motivasi serta doa dari mereka semoga UTN ulang 2 saya Lulus.

Maka setiap sholat saya berdoa dan tekun belajar materi. Saya menyalin kembali soal-soal latihan dan berusaha mengingat win-win solution dalam mengerjakan soal-soal UTN. Kali ini saya tidak akan main-main. Bagi saya ini bagian dari harga diri seorang guru. Karena selama 7 tahun mengajar, inilah saatnya saya menginginkan sertifikat profesional untuk dimiliki dan ingin diakui dan menjadikan identitas diri saya sebagai guru yang layak mengajar. Saya sudah cukup merasakan sakitnya tidak lulus dan ditinggalkan teman-teman mayoritas yang satu grup saya harapkan bisa banyak membantu saya belajar. Nyatanya tidak begitu mau empati dan membantu. Dikala daftar pengumuman tertulis nama saya belum lulus dan teman-teman yang sudah lulus diupload di facebook, maka seolah seluruh jagad dunia maya Facebook tau saya gagal. Seandainya berani mengutarakan keberatan, saya sebenarnya menginginkan daftar itu tidak diupload saya sekalian. Mereka yang lulus seperti tidak paham perasaan saya dan teman-teman lain yang belum beruntung seperti mereka.

Lagi-lagi saya berucap syukur, saya masuk grup UTN 2 untuk para guru Indonesia. Tetapi ada orang baik yang sudah lulus dengan senang hati masuk grup WA kami dan membantu kami belajar, menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, dan membantu membahas apapun di grup termasuk memberi motivasi saya untuk tekun belajar agar lulus. Namanya ibu Elmar Sasmida, guru dari Padang Prov Sumatra Barat. Ada pula bapak Wahyudi dari Meranti Prov Riau dan pak Amos dari Malinau Prov Kalimantan Utara, kami sering berdebat dalam membahas soal. Anehnya mereka mereka berdua itu adalah guru berprestasi di daerahnya, tapi belum lulus UTN ulang 1 seperti saya. Ternyata dalam grup itu ada orang-orang hebat yang bisa membantu saya belajar.

Tibalah waktu UTN ulang 2, Seperti ada rasa gembira yang sangat sebelum ujian dimulai. Kagetnya sebelum ujian pihak penyelenggara mengatakan KKMnya saat ini adalah 80 ke atas. Yah, tapi tak apalah . Dan ternyata ketika saya telah beradapan dengan komputer dan memulai ujian dari awal sampai akhir soal itu bisa saya selesaikan dengan sangat mudahnya. Dari 120 menit, saya hanya menggunakan waktu 29 menit dalam menyelesaikan soalnya, sudah termasuk waktu 3 kali bolak-balik mengecek soal dan jawaban. Dan kali ini saya yakin LULUS. Bahagia rasanya. Dan tiba pengumuman bulan Desember, hasilnya saya LULUS UTN ulang-2. Tak sabar rasanya mendapat sertifikat pendidik. Akhirnya saya diakui sebagai guru Profesional. Alhamdulillah ya Allah, TERIMA KASIH.

Penulis : Dwi Wahyuni
(berdasarkan kisah nyata)


SIAPA BIANG KEDURHAKAAN ANAK?



Hal ini berangkat dari rasa keprihatinan saya tentang masalah orangtua dan remaja. Acap kali kita perhatikan bahwa masalah-masalah remaja yang terjadi ini berawal dari tumpukan kerusakan yang terjadi dari pola asuh orangtua yang salah,. Bukan bermaksud mengkambinghitamkan peran orangtua. Karena jika orangtualah yang memberi kontribusi terbanyak dalam awal pendidikan seseorang yang lahir di dunia ini, merekalah peletak batu utama keteladanan dan karakter seseorang. Hal ini tak bisa dipungkiri, anak membawa tabiat dasar menurun secara genetis dari orangtuanya masing-masing. Maka hal ini perlu menjadi perhatian utama orangtua, agar berhati-hati dalam bertindak tanduk dalam kesehariannya. Anak itu tidak lain dan tidak bukan merupakan manifestasi dari orangtuanya masing-masing.

Orangtua kadang tak memandang penting mengenai adab terhadap anak. Sebagian orangtua bertanya, “untuk apa beradab tertentu trhadap anak? “, jangan kita berpikir, kitalah orangtua yang justru anak yang harus memperhatikan adabnya terhadap orangtua, mungkin kita ada lagi yang berkata, “ dimana-mana itu, anak yang durhaka pada orangtua, tidak ada ceritanya orangtua yang durhaka terhadap anak. Ya, kata “DURHAKA” yang berkembang di masyarakat hanyalah identik dengan perbuatan seorang anak saja terhadap orangtuanya. Itu adalah pandangan yang salah sekali. 

Ada sebuah kisah, ada seorang laki-laki menemui Umar bin Khattab untuk mengadukan kedurhakaan anaknya.
Umar pun memanggil anak tersebut dan menegur perbuatannya itu.
Setelah itu anak tersebut bertanya, “wahai amirul mukminin, bukankah anak memiliki hak atas orangtuanya?” tegas sang anak

Umar menjawab, “ya, benar”

“Lantas apa itu kewajiban orangtua kepada anak?” si anak kembali bertanya kepada khalifah Umar
Atas pertanyaan perihal kewajiban orangtua kepada anaknya, umar mengatakan, “ memilih calon ibu yang baik untuknya, memberi nama yang bagus, dan mengajarkan Al-Quran”.

“ Wahai amirul mukminin bagaimana aku berbakti kepada , sungguh ayahku ini tidak melakukan tiga hal tersebut. Ibuku adalah seorang negro dari keturunan Majusi. Ayahku menawaiku “ Ju’al adalah sejenis kumbang yang hidupnya akrab dengan kotoran hewan. Dia juga tidak mengajari Al-Qur’an. Dia juga memilihkan ibu yang buruk akhlaknya kepadaku.  

Umar memandang orangtua tersebut kemudian berkata, “Engkau datang mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau yang telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk padanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu”.
Tujuan dalam pernikahan selain mendapatkan keturunan adalah membangun generasi yang berkualitas akhlaknya. Orangtua yang menyakiti hati anak ditambah menelantarkan anaknya tersebut jika orangtua baik ayah atau ibu telah berdosa  pada anak-anaknya. Rasulullah bersabda, “ seseorang dikatakan cukup berbuat dosa bilamana menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya.” Menelantarkan bukan hanya diartikan membuang anak begitu saja, tetapi mengabaikan pendidikannya berupa pendidikan moral, maupun pendidikan formalnya. Tidak mengajari etika, beragama, bertingkahlaku yang baik terhadap orangtua, saudara, dan sesamanya. Orangtua menjadi orang yang paling bertanggungjawab atas hal tersebut. Tanggungjawab tidak hanya sekedar berbicara tentang materi, bukan hanya kau telah memberinya makan, kendaraan, fasilitas, rumah, pakaian, kendaraan, ongkos sekolah dan uang jajan. Tapi yang paling utama yang menjadi tanggungjawabmu adalah agama, kasih sayang, perhatian, dan pembentukan akhlaknya.
Acap kali kita dapati orangtua yang perkataannya sering menyingung perasaan anaknya, hal itu seolah menjadi hal sepele bagi orangtua. Perkataan positif sebaiknya lebih diperbanyak agar membuat anak lebih percaya diri dan senang.  Kekerasan terhadap anak baik fisik dan psikis bukti jauhnya orang tua dari sikap tanggungjawab dan kasih sayang. Seorang ayah dan ibu yang mempunyai iman dan sadar bahwa anak amanah besar dari Allah, tidak akan tega untuk menyakiti hati anak dengan melampiaskan amarah dengan alasan karena sedang capek lelah atau ditimpa kemiskinan, menghancurkan anak dengan kata-kata negatif, membunuh karakter dan bahkan membunuh perasaan mereka terhadap orangtuanya.
Anak itu ibarat tanaman, kau cukupi dengan pupuk, air, dan kebaikan tanah tempatnya tumbuh berkembang, kau perhatikan setiap hari, kau rawat dengan baik. Maka tanaman itu akan tumbuh subur, hijau dan berbuah ranum serta bermanfaat untuk orang-orang di sekitarnya. Namun sebaliknya, tanaman jika kau hanya asal menyiram, tak diperhatikan kebutuhan airnya, tidak dipupuk, ditanam pada tanah yang kurang baik, tidak pula kau rawat dan kau perhatikan lalu kau berharap tanamanmu sama dengan tetangga di sebelahmu yang subur dan terawat lalu kau kesal sendiri dengan tanamanmu yang tak baik bertumbuhnya, kau salahkan tanamannya yang tidak bagus, bahkan setiap hari kau kata-katai sebagai tanaman jelek dan sama sekali kau tidak memperbaiki caramu memeliharanya. Kau banding-bandingkan dengan punya tetanggamu. Karena kau kesal, kau cabut tanamanmu, lalu kau buang begitu saja karena kau anggap sebagai produk gagal. Sungguh caramu yang salah.
Sebagai orangtua haruslah bercermin, anak juga manusia seperti halnya kita. Janganlah kita hanya sibuk mengkritisi kekurangan anak kita tanpa memperhatikan sikap kita yang baik atau tidak padanya. Anak memang harus berbakti pada orangtuanya, itu bukan mengartikan kita sebagai orangtua bebas saja menyakiti perasaannya, tanpa perlu memperhatikan adab kepada anak. Dengan hanya banyak menuntut anak berbuat maksimal untuk kita, menuntut anak berbuat terbaik untuk orangtua, tidak membantah sedikitpun, sedangkan sikap orangtua pribadi terhadapnya kasar, tidak menghargai pendapatnya, mengganggapnya dungu, menghinakan harga dirinya dihadapan orang banyak, keberadaannya tidak dihargai, dianggap pembawa sial, dianggap sumber kesusahan hidup karena susah payah menghidupinya, dipukuli fisiknya terlebih lagi ada yang berpikir halal dan tidak berdosa untuk dibunuh karena merasa sebagai pemilik dari nyawa anak tersebut. Itu hanya akan membuat anak mengalami kesulitan untuk berbakti dan berbuat baik untuk orangtuanya sendiri. Janganlah mempersulit anak berbakti pada kita. Ajari dia bagaimana berkasih sayang yang baik dengan orangtua, saudaranya dan sesamanya. Ajari dia bagaimana menghormatimu, ajari dia beribadah kepada Penciptanya, ajari dia pandangan dan orientasi hidup yang baik, ajari dia sikap-sikap yang mulia, ajari dia cara bertutur kata yang sopan kepadamu, ajari dia cara bersabar terhadap kekuranganmu, ajari dia untuk menjaga harga dirinya, agama dan keluarga, karena kelak di akhirat kau akan mempertanggungjawabkannya kepada Allah Pemilik anak-anakmu.
Penulis : Ummu Luqman (Pemerhati Parenting)


Sabtu, 16 Maret 2019

“Jangan Ajari Orang Lain Menghina Anakmu”



Bukan bermaksud menjelek-jelekkan orangtua tetapi sebagian orang tua ketika kesal dengan anaknya cenderung suka curhat sama oranglain dengan menceritakan segala kekurangan anaknya secara berlebihan, bahkan lebih dari kesalahan yang dibuatnya. Ya, padahal kekurangan anak tidak lain merupakan kekurangan kita sebagai orangtuanya. Saya katakan, tidak baik seperti itu. Kenapa ? anakmu adalah keluargamu, implementasi dari dirimu sendiri, mendidiknya adalah kewajiban, mengasihinya adalah kebutuhan.

Beberapa kasus yang saya temui, menurut pengalaman pribadi saya dalam melihat  apa yang terjadi di masyarakat, orangtua merasa keberatan ketika anaknya direndahkan orang lain, diragukan kemampuannya. Selaku orangtua merasa terhina berhadapan dengan keadaan demikian, menghina anaknya artinya menghina harga dirinya dan juga keluarganya. Disisi lain, dia lupa bahwa sebelumnya dialah yang menjadi penyebab oranglain meremehkan anaknya, dia yang mencitrakan kepada orang lain bahwa anaknya adalah manusia yang tidak pantas dihargai, tidak beradab, tidak memiliki nilai apa-apa. Untuk itu saya mengajak kepada orang tua agar banyak-banyak mengintroveksi sikapnya sendiri dan belajarlah menghargai anaknya sendiri. Orang lain akan menghargai keluargamu, dari sikapmu sendiri. Buruknya anakmu adalah kekurangamu, unggulnya anakmu adalah keberkahan dari Allah untukmu yang telah menjaga amanahNya dengan membesarkan anak (titipanNya) dengan baik. 

Ingat! Anakmu adalah kualitasmu. Kualitasmu, dapat dilihat dari anakmu.




Hal itu cukup mengusik pikiran saya, kenapa? Orang tua yang bersikap kekanak-kanakan begitu, sepertinya hanya kebetulan saja menjadi orangtua akibat konsekuensinya menikah dan dihamili suaminya, pun suami karena kebetulan istrinya hamil dan melahirkan anak. Sebenarnya, tidak niat menjadi orangtua. Menjadi orangtua, anda harus banyak bersabar dengan kekurangan anakmu, ridho dengan pemberian Allah dan melaksanakan tanggungjawab semampumu.

Saya berpikir, apakah fenomena seperti ini akibat karena pasangan-pasangan yang menikah tanpa membekali diri sama sekali dengan ilmu parenting? Apakah memang bawaan tabiat dari orangtuanya juga? Dan orangtua menikahkan anaknya tanpa membekali anak dengan didikan yang sudah bebar-benar matang? Apakah pernikahan itu adalah uji coba saja? Ataukah terpaksa menikah karena MBA (Married by Accident) alias kecelakaan karena hamil diluar nikah? Sepertinya ini mata rantai masalah yang turun-temurun.

Jangan mudah lisanmu merendahkan harga diri anakmu, karena oranglain akan berpikir ada masalah pada pernikahanmu.

Anak akan sulit terbentuk karakter yang baik jika orang-orang di sekitarnya bermental illness. Kadang ada orangtua yang menyuruh anaknya agar berlaku sopan, tapi orangtua kerap berkata kasar, mendidik dengan memukul/ melukai fisik, tanpa adanya teladan baik sama sekali dari orangtuanya sendiri. Menuntut anak berprilaku sempurna tanpa mentolerir kekurangan anak tapi anak harus memaklumi kekurangan dan tidak boleh sama sekali menuntut orangtua berlaku baik padanya. Ya! Aturan tidak berlaku sebaliknya, itulah yang terjadi. Anak harus berbuat tanpa menuntut contoh. Jika di antara pembaca ada yang mengalami hal yang sama, sama-sama memiliki orangtua bermental illness, maka saya sarankan mau tidak mau kalian dituntut harus banyak-banyak bersabar. Jika pembaca ada yang sudah menjadi orangtua, banyak-banyaklah introveksi diri. Jadilah orangtua yang layak untuk anakmu. Jangan merasa membesarkan anak cukup hanya sekedar memberinya makan, membelikan materi, membekalinya dengan uang jajan, dan membayar uang sekolah dengan menyerahkan urusan mendidiknya hanya menjadi urusan sekolah saja.

Oia, tidak sedikit juga orangtua mengatai anaknya secara langsung dan tanpa pikir panjang, bahwa kehadiran anaknya hanya menjadi beban hidupnya, membuat hidupnya menjadi tidak bahagia, hanya menyusahkan saja. Wahai orangtua, patut diketahui dia lahir tanpa tau dia akan dilahirkan oleh Ibu dan Ayah yang bagaimana. Seandainya bisa memilih, dia tidak akan memilihmu menjadi orangtuanya. Menjadi orangtua memang harus menanggung sakit dan tidak ada yang memintamu untuk hamil dan mempunyai anak. Mengapa kalau demikian, kau tidak menikah saja sekalian? Orangtua yang harusnya menjadi pelindung, malah menjadi musuh untuk anaknya. Kau telah menuntut anakmu atas hal yang tidak mampu anakmu berkuasa untuk itu. Kau sama dengan menuntut Tuhan atas ketentuannya.

Sebaiknya dari awal anda katakan, tidak siap menjadi orangtua. Karena seorang anak jika berada ditangan anda hanya akan menjadi rusak mentalnya, dan anda bunuh karakternya. Dari awal harusnya anda sadar, anda tidak cocok mengasuh anak-anak. Sekolah menjadi “orangtua” memang tidak ada, tapi belajar menjadi orangtua yang baik itu bisa. Jika anda mau berusaha menjadi orangtua yang baik.

Banyak pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak, mereka sangat mengharapkannya. Tetapi ada pasangan suami istri yang sudah dikaruniai anak tapi tidak bersyukur dan tidak mau belajar memenuhi tanggungjawabnya sebagai orangtua.

Bersyukurlah kalian yang dianugrahi anak, ketika kalian meninggal dunia, maka dialah  orang yang diberi kelebihan oleh Allah untuk bisa meringankan siksa kuburmu jika kau bisa mendidiknya menjadi anak yang sholeh. Anak yang sholeh tidak didapatkan dengan hanya menuntut anak menjadi orang yang baik. Tetapi anak yang sholeh itu ada karena ada orang tua yang mau menjadi teladan dan berusaha paling depan dalam berbuat amalan-amalan yang sholeh.

Sayangilah anakmu. Jangan cepat murka terhadap anak kemudian menghinanya di depan oranglain jika tidak ingin anakmu dikemudian hari dihina orang. Sekali lagi saya katakan, Ingat! Anakmu adalah kualitasmu. Kualitasmu, dapat dilihat dari anakmu.

Written by Ummu Luqman (pendidik dan pemerhati parenting)

Pengalaman Lulus UTN

Serba-Serbi UTN  Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya lulus UTN. UTN ini sering menjadi polemik para guru yang sudah melewati PL...